Gegar Otak Bisa dipicu Karena Belajar Terlalu Keras?

Oleh : Ilham Moestavi | cnnindonesia.com | Jumat, 27 Januari 2017 | 21:33 WIB


IST

Wartakesehatan - Seorang pelajar atau mahasiswa bisa saja mengalami gegar otak dikarenakan perjuangan yang lebih keras untuk urusan akademis ketimbang rekan mereka yang cidera akibat olahraga. Demikian hasil studi kecil di AS.

Peneliti mensurvei 70 pelajar yang mendapat perawatan darurat karena gegar otak dan 108 remaja dan dewasa muda yang dirawat karena cidera lain.

Dengan satu kali gegar otak, siswa rata-rata butuh 5,4 hari untuk kembali ke sekolah, sedangkan yang cidera lain butuh 2,8 hari, seperti dilansir VOA.

Sepekan setelah terluka, 42 persen siswa dengan gegar otak mendapat bantuan akademik, seperti les tambahan atau ujian dengan waktu ekstra, dibanding 25 persen dengan cidera lain. Sebulan kemudian, 31 persen kelompok gegar otak mendapat bantuan, juga 24 persen siswa lain.

“Setelah gegar otak, ada krisis energi di otak. Otak butuh lebih banyak energi untuk pulih dibanding energi yang tersedia,” kata penulis utama studi, Erin Wasserman dari University of North Carolina di Chapel Hill.

“Karenanya, gejala yang dialami tiap orang, seperti sakit kepala, sulit tidur, depresi, serta masalah konsentrasi dan mengingat,” ujar Wasserman, yang menyelesaikan studi di University of Rochester. “Seluruh gejala ini dikenal menyebabkan masalah di sekolah.”

Untuk menilai bagaimana gegar otak berdampak pada sekolah, Wasserman dan koleganya mensurvei atlet pelajar yang dirawat di tiga unit gawat darurat di Rochester, New York, sepanjang September 2013 hingga January 2015.

Mereka mengecualikan pelajar yang mendatangi ke unit gawat darurat lebih dari 24 jam setelah cidera atau yang terluka parah hingga perlu masuk rumah sakit.

Bagi kelompok pembanding tanpa gegar otak, peneliti hanya memasukkan atlet dengan cidera ekstrem yang diisolasi, seperti patah lengan di satu lokasi. Pelajar yang gegar otak dikecualikan jika pindai otak menunjukkan lesi intrakranial akut, atau jaringan rusak parah.

Peneliti bertanya tentang gejala dan aktivitas sekolah sepekan dan sebulan sesudah cidera.

Pertanyaannya, antara lain, kemampuan konsentrasi mereka, kemampuan mengerjakan ujian dengan lancar, serta gejala seperti sakit kepala. Rentang skor dari 0 sampai 174 dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan kesulitan akademis yang lebih parah.

Dalam satu pekan, 83 persen pelajar yang gegar otak melaporkan gangguan setidaknya di area yang tidak mereka alami sebelum cidera, demikian pula 60 persen pelajar dengan cidera ekstrem, demikian laporan peneliti di American Journal of Public Health.

Dalam satu pekan, pelajar yang gegar otak memiliki skor disfungsi akademik 15 poin lebih tinggi dibanding rata-rata rekan mereka dengan cidera lain masing-masing di 63 dan 48. Setelah satu bulan, skor mereka sama: 42 dengan gegar otak dan 40 dengan cidera lain.

Keterbatasan studi ini adalah 24 persen pelajar yang gegar otak dan belum kembali ke sekolah dalam satu pekan dari cidera, mereka dikecualikan dari analisis.
Hal itu berarti hanya pelajar dengan cidera kecil atau efek ringan setelah gegar otak yang dimasukkan.

Karena gegar otak, pelajar bisa punya masalah penglihatan atau kesulitan dengan gerakan mata yang berefek pada kegiatan akademis, kata Anthony Kontos, direktur peneliti gegar otak di program kedokteran olahraga University of Pittsburgh Medical Center.

“Sejumlah pelajar bisa jadi mengalami kesulitan menggeser pandangan dari dekat ke jauh, seperti dari buku pelajaran ke papan tulis, setelah gegar otak,” kata Kontos, yang tidak terlibat dalam studi.

Dengan potensi masalah penglihatan dan konsentrasi, demikian pula gejala seperti sakit kepala dan pening yang mempersulit sekolah, dokter menyarankan pelajar sering beristirahat dan berhenti bekerja sebelum gejala jadi memburuk, kata Dr. John Leddy direktur medis klinik manajemen gegar otak di University at Buffalo.

“Kita tidak tahu pasti apa penyebab kesulitan konsentrasi dan ingatan di sekolah, kecuali laporan umum bahwa intoleransi kognitif; yakni pelajar tak dapat mengerjakan tugas dalam periode berkelanjutan sebelum menjadi demikian kelelahan sehingga tak dapat memproses informasi baru,” ujar Leddy.

“Akademis cenderung mencerminkan masalah intoleransi kognitif karena ketidakefisienan setelah gegar otak,” imbuh Leddy.




Fokus : Otak


#Kesehatan #Otak #Belajar
Kontak Informasi Wartakesehatan
PT. SIBER MEDIA ABADI

Redaksi: redaksi[at]wartakesehatan.com
Tlp/Fax: 021-86610709 / 021-86610709
Iklan: marketing[at]wartakesehatan.com

Komentar






Liputan Khusus - 1 minggu yang lalu

Idul Adha 1441 H : Masjid Baiturrahman & Al-Islam Cipayung Ikuti Protokol Kesehatan

Wartakesehatan.com - Dalam menjalankan rangkaian ibadah Idul Adha 1441 H/2020 M pada tahun ini sangat berbeda sekali dari..
Liputan Khusus - 1 minggu yang lalu

Lurah Cipayung Tinjau Penerapan Protokol Kesehatan Saat Idul Adha 1441 H/2020

Wartakesehatan.com - Masih tingginya penyebaran wabah Covid-19 di wilayah DKI Jakarta menjadi perhatian bagi pemangku kebijakan..
Liputan Khusus - 1 minggu yang lalu

Masjid Nurul Hikmah Terapkan Protokol Kesehatan & Konsisten Jaga Kualitas Daging Qurban

Wartakesehatan.com - Rangkaian pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 1441 H/2020 pada tahun ini sangat dipengaruhi dengan situasi..
Liputan Khusus - 1 minggu yang lalu

Daging Qurban Masjid Al Falah Terpantau & Terapkan Protokol Kesehatan

Pelaksanaan pemotongan hewan qurban di Masjid Al Falah Cipayung Jakarta Timur.
Herbal - 3 minggu yang lalu

Kelompok Usia Produktif Waspadai PTM

Wartakesehatan.com -- Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menunjukkan bahwa saat ini perkembangan Penyakit Tidak..
Herbal - 3 minggu yang lalu

Cegah Virus dengan Herbal

Wartakesehatan.com - Antivirus corona berbasis tanaman eucalyptus belakangan ini ramai diperbincangkan. Potensi antivirus..
Obat & Penyakit - 4 minggu yang lalu

Menkes Sebut Meniran Hijau untuk Penanggulangan Covid-19

Wartakesehatan.com - Menteri Kesehatan Terawan patut diberikan apreasiasi dengan sebutan bapak Herbal karena mendukung Obat..
Warta Sehat - 4 minggu yang lalu

Awas! Protokol Kesehatan Anak di Sekolah Bisa Jadi Cluster Baru

Wartakesehatan.com - Banyak pihak yang meminta pemerintah menunda untuk melaksanan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah..
Warta Sehat - 1 bulan yang lalu

Cegah Penularan Droplet dengan Masker di Mana Saja

Wartakesehatan.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui munculnya bukti-bukti yang melihat virus Corona COVID-19 bisa..
Warta Sehat - 1 bulan yang lalu

Waspadai Droplet di Ruangan tertutup

Wartakesehatan.com - New Normal membuat sebagian kantor-kantor buka dan para karyawan kembali bekerja sedia kala, namun masih..

+Indeks