Hingga saat ini, penyebab pasti terjadinya kanker masih belum diketahui dengan pasti. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa paparan zat karsinogenik dalam jangka panjang merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kondisi ini.

Beberapa Jenis Zat Karsinogen

Tubuh dapat terpapar zat karsinogenik kapan saja dan di mana saja, misalnya saat beraktivitas di dalam rumah, sekolah, kantor, atau ketika mengonsumsi makanan dan minuman tertentu.

Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (International Agency for Research on Cancer/IARC) sebagai bagian dari WHO mengklasifikasi zat karsinogen ke dalam beberapa kelompok, yaitu:

  • Kelompok 1: Karsinogenik untuk manusia.
  • Kelompok 2A: Kemungkinan besar karsinogenik untuk manusia.
  • Kelompok 2B: Dicurigai berpotensi karsinogenik untuk manusia.
  • Kelompok 3: Tidak termasuk karsinogenik pada manusia.

Sumber Zat Karsinogen yang Paling Sering Ditemui

Ada beberapa sumber zat karsinogenik yang sering ditemui di sekitar kita, yaitu:

Rokok dan asap rokok

Rokok tembakau dan asapnya mengandung sekitar 70 zat yang diduga dapat memicu kanker, di antaranya nikotin, karbon monoksida, amonia, arsenik, benzena, timah, hingga hidrogen sianida. Hal inilah yang membuat para perokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif, berisiko tinggi terkena kanker.

Selain memicu pertumbuhan sel kanker, kebiasaan sering menghirup asap rokok juga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena gangguan kesehatan serius lainnya, seperti PPOK, serangan jantung, dan diabetes.

Makanan atau minuman tertentu

Zat karsinogenik juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi. Beberapa kandungan makanan atau minuman yang yang diduga bersifat karsinogenik adalah:

  • Bahan tambahan (zat aditif) pada makanan atau minuman, seperti sakarin dan aspartam.
  • Bahan makanan yang tercemar atau terkontaminasi pestisida, limbah industri, atau logam berat.
  • Bahan pengawet atau pewarna makanan, seperti nitrat, boraks, dan formalin.

Selain bahan makanan, cara pengolahan makanan juga bisa menghasilkan zat karsinogenik, misalnya memasak makanan dengan cara membakar atau menggorengnya hingga kehitaman. Proses tersebut akan menyebabkan pembentukan zat kimia acrylamide pada makanan, yang merupakan salah satu zat karsinogenik.

Bahan kosmetik

Beberapa produk kosmetik memiliki bahan yang bersifat karsinogenik, namun kandungannya sangat kecil. Meski demikian, risiko untuk munculnya kanker tetap ada, terutama bila tubuh terpapar bahan tersebut dalam jangka waktu lama.

Beberapa bahan berbahaya dalam kosmetik yang perlu diwaspadai karena berisiko menyebabkan pertumbuhan sel kanker antara lain formaldehida, paraben, merkuri, dan phthalate.

Selain meningkatkan risiko terkena penyakit kanker, pemakaian kosmetik yang memiliki kandungan berbahaya tersebut juga dapat menimbulkan bahaya lain, seperti dermatitis kontak, gangguan hormon, hingga penyakit bawaan lahir pada janin.

Untuk mencegah paparan zat karsinogen dari kosmetik, sebaiknya gunakan kosmetik yang dijual secara legal dan terdaftar di BPOM, serta telah melewati uji dermatologis.

Paparan zat karsinonegik mungkin sulit untuk dihindari sepenuhnya. Namun, Anda bisa meminimalkannya dengan beberapa cara, misalnya menggunakan alat pelindung diri saat bekerja, menggunakan masker saat terpapar polusi, menjalani pola makan sehat, dan berhenti merokok.

Selain itu, Anda juga bisa melakukan pemeriksaan secara berkala ke dokter bila sering atau berisiko terpapar zat karsinogenik, misalnya karena pekerjaan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi kanker secara dini, agar dapat segera ditangani.