Beberapa Jenis Infeksi Otak Dan Faktor Resikonya

Oleh : Kiven Timisela | Jumat, 14 Pebruari 2020 | 08:30 WIB



BACA JUGA :

    Wartakesehatan.com-Infeksi otak adalah kondisi saat otak atau jaringan di sekitarnya terinfeksi virus, bakteri, jamur, atau parasit. Gangguan yang muncul akibat infeksi otak tergantung pada bagian otak yang terkena infeksi. Namun, sebagian besar kasus infeksi otak bisa menimbulkan komplikasi berbahaya jika tidak segera diobati.

    Infeksi otak dapat menimbulkan beragam gangguan bagi penderitanya. Pasalnya, otak merupakan salah satu organ paling kompleks dan berperan penting dalam mengendalikan banyak fungsi tubuh, mulai dari pergerakan, mengatur refleks dan koordinasi tubuh, berpikir, berkonsentrasi, hingga menentukan sikap dan perilaku.

    Beberapa Jenis Infeksi Otak

    Infeksi otak bisa memengaruhi berbagai organ lain, sehingga menghasilkan gejala yang berbeda-beda. Berikut ini adalah beberapa jenis infeksi otak berdasarkan lokasi terjadinya infeksi dan penyebabnya:

    1. Meningitis

    Miningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges, yaitu lapisan pelindung yang mengelilingi otak dan saraf tulang belakang. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus, namun terkadang bisa juga disebabkan oleh bakteri dan jamur.

    Sakit kepala hebat, demam tinggi, mual dan muntah,leher terasa kaku, kejang, serta linglung hingga sulit konsentrasi adalah gejala yang umum ditemui pada kasus meningitis.

    Sementara gejala miningitis pada bayi dapat berupa penonjolan fontanel (bagian lunak di kepala), lemas, kurang mau makan atau menyusu, tidur berlebihan, dan rewel.

    Meningitis merupakan penyakit infeksi otak yang harus segera ditangani, baik pada orang dewasa maupun anak-anak, karena dapat menyebabkan kecacatan dan kematian.

    2. Ensefalitis

    Ensefalitis merupakan peradangan yang terjadi pada otak akibat infeksi virus. Beberapa virus yang paling sering menyebabkan kondisi ini adalah virus herpes simpleks,varisela atau cacar air,virus Epstein-Barr, dan campak.

    Kendati demikian, ensefalitis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri dan jamur. Hanya saja, ensefalitis akibat bakteri dan jamur lebih jarang terjadi Ensefalitis biasanya muncul bersamaan dengan meningitis. Kondisi ini dikenal dengan sebutan meningoensefalitis.

    Jika Anda mengalami demam tinggi dan sakit kepala, lalu beberapa jam atau hari kemudian Anda sulit berbicara, linglung, tubuh sulit digerakkan, dan kejang, segeralah temui dokter karena gejala-gejala tersebut kemungkinan disebabkan oleh ensefalitis.

    3. Abses otak

    Abses otak dapat terjadi di bagian otak mana saja. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri yang mengakibatkan penimbunan nanah dan pembengkakan di otak.

    Gejala abses otak dapat muncul secara perlahan atau tiba-tiba. Kondisi ini dapat dikenali dari menurunnya kemampuan berbahasa dan menggerakkan tubuh, gangguan penglihatan, lambat dalam memberikan respons atau berpikir, mual muntah, sulit fokus, dan mudah mengantuk.

    Abses otak perlu segera ditangani oleh dokter. Jika tidak, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti kerusakan otak permanen atau kecacatan dan kematian.

    4. Toksoplasmosis

    Penyakit ini disebabkan oleh infeksi parasit Toxoplasma gondii yang menyerang organ tubuh tertentu, termasuk otak.

    Sebagian orang yang terkena toksoplasmosis tidak mengalami gejala. Namun, infeksi otak akibat toksoplasmosis bisa menimbulkan gejala berupa demam, sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, kejang, penurunan kesadaran, atau gangguan koordinasi tubuh.

    Penyakit ini rentan terjadi pada orang yang sering bersentuhan dengan kotoran kucing atau memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya karena pengobatan kemoterapi, mengonsumsi obat-obatan imunosupresan, dan infeksi HIV.

    5. Malaria serebral

    Merupakan infeksi otak yang disebabkan oleh malaria.Penyakit ini biasanya terjadi akibat komplikasi dari penyakit malaria yang tidak diobati.

    Penderita infeksi otak ini biasanya akan merasakan beberapa gejala berupa demam, menggigil, kejang, mual muntah, kesulitan bicara, gangguan pendengaran atau penglihatan, sakit kepala berat, perubahan perilaku, serta penurunan kesadaran atau koma.

    Apa pun penyebab dan jenisnya, infeksi otak adalah penyakit berbahaya yang perlu segera diperiksakan dan diobati oleh dokter. Jika terlambat diobati, infeksi otak berisiko tinggi menyebabkan kecacatan atau bahkan kematian.

    Apa yang Membuat Anda Berisiko Terkena Infeksi Otak?

    Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi otak, yaitu:

    • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat HIV/AIDS, efek samping kemoterapi, diabetes, kecanduan alkohol atau penyalahgunaan obat terlarang
    • Terdapat infeksi pada gigi dan rongga sinus
    • Belum mendapatkan vaksinasi
    • Mengalami cedera kepala
    • Berusia lebih dari 60 tahun

    Jika Anda merasakan gejala infeksi otak, apalagi jika memiliki faktor risiko di atas, segeralah periksakan diri ke dokter.

    Untuk mendiagnosis dan mencari tahu penyebab infeksi otak, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang berupa pemeriksaan darah lengkap dan cairan serebrospinal untuk menentukan bakteri, jamur, parasit, atau virus penyebab infeksi.

    Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang pada otak, seperti MRI, CT scan, serta EEG untuk memeriksa kondisi otak dan menentukan bagian otak yang terinfeksi.




    #Kesehatan #Infeksi otak #Miningitis #Ensefalitis
    Kontak Informasi Wartakesehatan
    PT. SIBER MEDIA ABADI

    Redaksi: redaksi[at]wartakesehatan.com
    Tlp/Fax: 021-86610709 / 021-86610709
    Iklan: marketing[at]wartakesehatan.com

    Baca Juga

      Komentar






      Warta Sehat - 1 minggu yang lalu

      Pembagian Sembako untuk Kaum Dhuafa Bekasi oleh Ezy Pratama Foundation dan INTI

       Wartakesehatan.com.- Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) bersama yayasan ezy pratama foundation mengadakan bakti..
      Alkes & Lab - 1 minggu yang lalu

      Confidence Persembahkan Adult Pants Gender untuk Pria dan Wanita

      Jakarta, WartaKesehatan.com - Confidence, merek popok dewasa nomor 1 di Indonesia kembali meluncurkan produk terbarunya,..
      Warta Sehat - 1 minggu yang lalu

      Donasi Dexa Group Agar Tenaga Medis Miliki Imun Kuat

      Wartakesehatan.com - Derasnya dukungan penanganan Covid -19 dengan menyumbang Donasi 20.000 kapsul Stimuno Forte dan 50 goodie..
      Warta Sehat - 2 minggu yang lalu

      CFD Jangan jadi Cluster Baru, Konsisten Jaga Imun Tubuh

        Wartakesehatan.com, JAKARTA - Pelonggaran PSBB sudah dilakukan di beberapa daerah, namun sayangnya tidak semua..
      Obat & Penyakit - 2 minggu yang lalu

      Menkes: Masyarakat Jangan Ragu untuk Konsumsi OMAI

      Jakarta - Tak pernah bosan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengimbau agar masyarakat tak perlu ragu untuk..
      Warta Sehat - 2 minggu yang lalu

      Komnas Anak Tuding Gubernur DKI Hilangkan Hak Anak

      Wartakesehatan.com - Hilangnya hak anak atas pendidikan di DKI Jakarta dan bahkan di Indonesia tahun ajaran baru 2020/2021..
      Warta Sehat - 2 minggu yang lalu

      Jadikan Sumatera Bebas Asap, Kapolda Sumsel dan Jambi Bangun Posko Karhutla Bersama

      Wartakesehatan.com -  Guna mengantisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada masa kemarau tahun ini, Kepala..
      Warta Sehat - 2 minggu yang lalu

      Baksos Ezy Pratama Foundation dan Yayasan INTI ke Kaum Dhuafa Klender

      Wartakesehatan.com - Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) bersama yayasan ezy pratama foundation mengadakan bakti sosial di..
      Obat & Penyakit - 3 minggu yang lalu

      New Normal: Menjaga Imunitas dengan Imunomodulator Herbal

      JAKARTA - Kita tahu, wabah korona belum kunjung usai di dunia dan negara kita, Indonesia. Apalagi sampai saat ini vaksin untuk..
      Warta Sehat - 4 minggu yang lalu

      Hasanuddin Minta Pemerintah Daerah Tak Asal Terapkan New Normal

      JAKARTA,- Pemerintah menerapkan kenormalan baru atau new normal di tengah pandemi covid-19. Langkah ini mendapat sorotan dari..

      +Indeks